Saturday, 17 July 2010

FAKTOR GAYA BELAJAR DALAM KBM

          Upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah dalam mengelolah institusinya telah dilakukan Depdiknas sejak lama. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional khususnya pendidikan dasar dan menengah pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun berbagai indikator menunjukkan bahwa mutu pendidikan masih belum meningkat secara signifikan. Sebagian kecil saja sekolah menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan. Maka wajar saja apabila berbagai pihak mempertanyakan apa yang tidak pas dalam penyelenggaraan pendidikan kita?

          Sejak bertahun-tahun yang lalu bahkan sampai sekarang terdapat suatu pandangan bahwa keberhasilan siswa bergantung pada pendidik. Namun yang terjadi tidak demikian. Fakta menunjukkan bahwa keberhasilan siswa dalam belajar juga bergantung pada diri mereka sendiri. Kebermaknaan siswa dalam belajar sehubungan dengan fakta tersebut menunjukkan bahwa walaupun guru mengajar dengan baik, menggunakan banyak metode dan memberikan fasilitas yang canggih, proses belajar mengajar tidak akan berhasil tanpa usaha konkrit dari mereka sendiri. Tidak ada seorang gurupun yang bisa menyulap siswanya untuk mencapai keberhasilan dalam belajar tanpa adanya keinginan dan upaya konkrit dari siswa sendiri untuk meningkatkan kemampuannya.

          Salah satu potensi yang ada di dalam diri siswa adalah gaya belajar. Siswa adalah subyek yang belajar atau disebut pembelajar. Setiap siswa memiliki karakteristik umum dan karakteristik khusus. Karakteristik siswa secara khusus dapat dilihat dari berbagai sudut. Antara lain dari sudut gaya belajar. Oleh karena setiap anak merupakan individu yang unik (berbeda satu sama lain) maka sedapat mungkin guru memberikan perlakuan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing siswa. Setiap siswa berbeda dalam gaya belajar. Siswa tertentu lebih mudah belajar dengan mendengar (tipe auditif), siswa lain lebih mudah dengan melihat (tipe visual), atau dengan cara melakukan kegiatan melaui gerak (tipe kinestetika). Oleh karena itu kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, waktu belajar, dan alat belajar perlu beragam sesuai dengan karakteristik siswa walaupun untuk memahami satu jenis konsep yang sama.  

          Saya sendiri telah mengamati beberapa fenomena di lingkungan sekolah baik saat saya sebagai pelajar maupun saat saya sebagai pengajar. Saya menemukan beberapa siswa yang berpindah-pindah sekolah karena bermasalah dengan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah itu. Siswa yang sebelumnya berasal dari sekolah kelas atas dalam arti berkualitas baik setelah masuk ke sekolah kelas menengah atau bawah dalam arti berkualitas sedang atau kurang memutuskan untuk keluar dari sekolah itu atau kembali ke sekolah mereka sebelumnya. Demikian juga sebaliknya, siswa yang sudah terbiasa dengan sekolah kelas menengah atau bawah setelah masuk ke sekolah kelas atas memutuskan untuk mencari sekolah lain atau kembali ke sekolah asal mereka. Ataupun siswa yang sudah terbiasa dengan sekolah kelas menengah setelah masuk ke sekolah kelas bawah atau sebaliknya siswa yang sudah terbiasa dengan sekolah kelas bawah setelah masuk ke sekolah kelas menengah memutuskan untuk keluar dari sekolah itu. Beberapa di antara mereka mengatakan bahwa mereka tidak suka dengan cara belajar yang santai atau terlalu santai atau sebaliknya cara belajar yang ketat atau terlalu ketat. Kejadian ini biasanya terjadi pada tahun pertama sekolah yaitu kelas VII atau kelas X sehingga pada saat masuk tahun II bahkan semester II atau catur wulan II tahun pertama beberapa siswa datang dan pergi.

          Selain itu saya juga mendapati kejadian/peristiwa lain yang hampir serupa. Saya mendapati beberapa siswa yang kadang mengalami peningkatan dan kadang mengalami penurunan belajar dalam suatu kelas. Hal ini terjadi karena ketidakstabilan gaya belajar mereka. Kadang mereka belajar dengan gayanya sendiri dan kadang mereka belajar dengan gaya belajar orang lain.

          Kejadian/peristiwa lain yang juga hampir serupa yaitu sistem pengelompokan siswa dalam suatu kelas. Pihak sekolah cenderung mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat kecerdasannya yang diperoleh dari hasil belajar siswa berupa angka dalam laporan hasil belajar. Padahal angka-angka yang tertera dalam laporan tersebut belum tentu benar-benar murni hasil belajar siswa yang menunjukkan tingkat kemampuannya dalam berfikir dan mengolah informasi. Sistem pengelompokan itupun beragam. Sejumlah sekolah mengelompokkan siswanya ke dalam kelas atas, menengah, dan bawah. Kelas atas biasanya terdiri dari siswa pandai, kelas menengah terdiri dari siswa sedang, dan kelas bawah terdiri dari siswa kurang. Sejumlah sekolah lain mengelompokkan siswanya dengan cara mengkombinasikan siswa pandai, sedang, dan kurang. Jika siswa tersebut dikelompokkan berdasarkan nilai dalam laporan hasil belajar atau ranking kelas, maka akan terjadi kesenjangan dalan KBM. Dalam sistem pengelompokan kelas atas, menengah, dan bawah akan tampak sekali perbedaan yang signifikan baik dalam proses KBM maupun hasilnya jika diberikan perlakuan yang sama. Demikian juga halnya dengan sistem pengelompokan kelas kombinasi. Siswa pandai akan mengalami peningkatan belajar sebaliknya siswa kurang akan mengalami penurunan belajar. Sedangkan siswa sedang mungkin akan mengalami peningkatan atau penurunan bahkan mungkin tidak mengalami peningkatan maupun penurunan belajar. Anggapan bahwa dalam sistem pengelompokan kombinasi akan terjadi interaksi positif antara siswa pandai, sedang, dan kurang tidak sepenuhnya benar. Bahkan kondisi tersebut cenderung menimbulkan perbedaan yang jelas antar siswa. Siswa kurang cenderung malu berinteraksi positif dengan siswa pandai atau sedang. Sebaliknya siswa pandai cenderung sombong untuk berinteraksi positif dengan siswa kurang. Sedangkan siswa sedang mungkin cenderung malu atau tidak malu untuk berinteraksi positif dengan siswa pandai.

          Sebagai fasilitator, guru harus memfasilitasi siswanya dalam belajar. Tetapi terkadang terjadi kesalahpahaman dalam memaknai istilah fasilitas. Istilah fasilitas tak jarang dimaknai sebagai sesuatu berupa alat atau benda yang selanjutnya disebut media. Padahal sesungguhnya fasilitas juga bisa berupa tindakan/aksi.
           Kondisi belajar yang terdiri 30 siswa bahkan lebih dalam satu kelas merupakan kondisi yang sulit untuk difasilitasi khususnya fasilitas gaya belajar. Dalam satu kelas tersebut bisa terdapat tiga gaya belajar berdasarkan modalitas visual, auditorial, atau kinestetik (V-A-K). Masing-masing individu memiliki dominasi gaya belajar yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu sulit bagi seorang siswa untuk menjaga kestabilan gaya belajarnya. Demikian pula dengan gurunya yang sulit untuk memfasilitasi sejumlah siswa dengan satu gaya belajar saja.

           Habitat guru adalah selalu di dalam kancah pendidikan peserta didik. Oleh karenanya sebagai guru yang terpanggil akan tugasnya, perhatian utama dalam hidupnya adalah tentang sifat-sifat yang dimiliki siswa-siswanya. Dengan memahami sifat-sifat siswa dan kebiasaan belajarnya maka guru akan dapat membimbing siswa secara lebih efektif. Akan tetapi, sedikit sekali guru yang telah peduli untuk mencoba menggali gaya belajar yang dimiliki oleh para siswanya. Ini mengindikasikan bahwa gaya belajar siswa belum banyak diketahui oleh guru. Hal ini dapat dilihat dari kecenderungan guru untuk lebih mempersiapkan kelengkapan administrasi pengajarannya dibandingkan dengan persiapannya untuk mengenali siswanya. (By Emy Yuliany, S.Pd)




No comments:

Post a Comment